Waspada! Harta Adalah Fitnah



Foto ilustrasi www.pexels.com

Harta menjadi bagian penting dalam kehidupan. Bahkan harta juga menjadi indikasi derajat dan status sosial seseorang dalam bermasyarakat. Allah Ta'ala berfirman:

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Q.S. Ali-Imran:14).

Dijadikan indah harta dalam pandangan manusia seakan menjadi godaan dan penilaian terhadap iman seseorang. Harta bersifat fana (sementara), serta tidak bisa menjadi penolong kelak di akhirat. Namun keimanan mampu menjamin seseorang untuk mendapat tempat yang layak di akhirat.
 


Harta menjadi penyebab seseorang bisa merelakan apapun, termasuk keimanannya. Miris memang, namun itulah fakta yang harus kita akui, dan harus kita cegah sejak dini. Allah juga sudah menyebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa manusia memang diberikan pandangan serta kecintaan terhadap harta sangat berlebihan. Hal itu sudah disebutkan Allah dalam Al-Qur’an:

Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (Q.S. Al-Fajr: 20).

Lantas bagaimana kita seharusnya memandang harta ini agar tidak menjadikan kita sebagai orang yang terlena terhadap harta benda. Pahamilah bahwa harta yang kita punya adalah mutlaq milik Allah SWT sepenuhnya, bahkan jiwa kita sendiri sesungguhnya bukanlah kita yang memiliki, namun Allah SWT. Kita hanya diberikan harta sebagai pemilik sementara saja. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadam.” (Q.S. An-Nur: 33).

Kemudian perlu juga untuk dipahami bahwa harta yang kita miliki sejatinya sifatnya hanyalah titipan Allah. Kita hanya sekedar diamanahi untuk menjaganya, lantas tidak ada alasan untuk kita membangga-banggakannya. Mengelu-elukan harta di depan manusia, bahkan menumpuk-numpuknya agar mendapat julukan manusia paling kaya. Sungguh itu lebih hina daripada mereka yang berusaha mencari harta lalu menginfaqkan sebagian darinya. Meskipun sedikit yang diterima namun ada kesadaran bahwa harta yang didapat ada hak yang mesti diberikan kepada yang berhak. Allah berfirman:

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan infaqkanlah di jalan Allah sebagian harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai pemegang amanahNya.” (Q.S. Al-Hadid: 7).

Perlu kita pahami juga, selain sebagai karunia, harta juga merupakan ujian dan fitnah bagi empunya. Tidak hanya menjadikan kita sebagai manusia berderajat, lebih kejam dari itu, dia bisa memperosokkan kita ke dalam lubang fitnah. Karena kadang ada yang lebih mementingkan kepentingan harta daripada sang pemnberi harta tersebut yaitu Allah SWT. Allah berfirman:

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Q.S. At-Taghabun: 15).

Oleh karena itu, memang kita harus meletakkan harta bukan sebagai prioritas dan tujuan kita di dunia. Maka, seberapa banyak harta yang kita kumpulkan semoga juga mempengaruhi infaq dan sedekah kita di jalan Allah SWT. Allahu a’lam. (Ali Muhtadin)
Bagikan! Bagikan! Bagikan! Bagikan!

About Redaksi

0 comments:

Post a Comment