Menelisik Kualitas Produksi Dan Bisnis Kopi Indonesia Di Tengah Persaingan Kopi Mancanegara

Biji mentah kopi Bajawa Flores, Nusa Tenggara Timur. (Moslemzone.com/Zakarija)
Moslemzone.com – Indonesia memiliki kopi dengan kualitas yang tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan menurut Ketua Asosiasi Ekspor Impor Kopi Indonesia yakni Eris, dalam acara Ngopi dan Diskusi Madame Coffee di Mall FX Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (19/12/16), mengatakan, bahwa kopi Indonesia memiliki karakteristik terbaik dan terlengkap dibandingkan negara-negara penghasil kopi yang lain seperti Brazil, Kolombia, Guatemala dan Ethiopia.

"Bicara potensi kopi Indonesia di mata dunia kita harus berbangga, bahwa kopi Indonesia adalah salah satu kopi terbaik yang memiliki karakteristik terlengkap. Jadi kopi Indonesia ini memiliki karakteristik atau profil terlengkap dibandingkan dengan negara-negara produsen kopi seperti Brazil, Kolombia, Guatemala, ataupun Ethiopia, karena Indonesia memiliki tekstur tanah yang cukup baik, iklim cuaca yang juga cukup mendukung untuk kebun kopi, sehingga kalau boleh bersaing secara kualitas, kita bisa menang asalkan para petani-petani kita ini mulai diberikan edukasi pelatihan-pelatihan,” ungkapnya.

Bagi Eris, yang dimaksud pelatihan disini adalah bagaimana para petani kopi diberikan edukasi mengenai tata cara mengelola tanaman kopi dari mulai merawat hingga mengolahnya, sehingga dapat saling bermanfaat antara yang berada di hulu dan di hilir.

“Pelatihan-pelatihan yang sifatnya bagaimana mengelola tanaman kopi dari mulai cara merawat tanamannya, memetiknya, sampai dengan mengolahnya. Karena kopi ini tidak bisa tergantung satu sisi saja, kopi ini memang dari hulu dan hilir harus bersinergi,” jelasnya.

Menurut Eris sendiri, Ada beberapa kopi indonesia di luar yang sudah menang. Pada tahun 2015, salah satu kopi asal jawa barat yaitu kopi Gunung Puntang menang menjadi kopi terbaik pada acara lelang, dan dihargai lebih kurang 750 ribu per kilo untuk biji mentahnya.

Terkait permasalahan mengenai kopi di Indonesia, Eris berharap agar pemerintah dan kementerian yang terkait dapat mensupport petani-petani kopi, terutama kaum wanita. Kaum wanita sendiri dalam produksi kopi memegang peranan yang sangat besar, sebab mereka adalah pemetik kopi, kehadiran mereka kadang dikesampingkan dan tidak diperhatikan. Maka dari itu, para petani kopi harus diberikan edukasi yang benar terkait produksi kopi, sebab jika dikerjakan secara asal hanya akan merusak harga dan cita rasa kopi yang dihasilkan.

“Kopi ini harus diperhatikan mulai dari hulunya yakni petik merah, karena selama ini banyak di daerah pada saat panen kopi, mereka para petani ini sering kali memetiknya itu diambil semua, yang hijau, yang kuning, yang merah itu dipetik semua, kerugiannya banyak, kalau kita pelaku-pelaku kopi di hilir kalau pada saat tampilan luar biji mentah itu tidak terlihat tetapi kalau sudah berbentuk hasil gorengan itu akan terlihat antara biji yang mateng, biji yang setengah mateng dan biji yang mentah, warnanya itu belang-belang, jadi ini yang akan merusak cita rasa,” tutur Eris dalam diskusi.

Menurut pantauan Eris, Konsumsi kopi di Indonesia saat ini mengalami tren peningkatan, dimana pada tahun 2014 sampai tahun 2016 meningkat seratus persen dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Konsumsi kopi di Indonesia saat ini ada peningkatan, kalau boleh dikatakan dari tahun dibawah tahun 2010, kopi dalam negeri masih sekitar 700gr perkapita pertahun. Dari tahun 2014 sampai tahun 2016 ini ada peningkatan yang cukup signifikan, jadi konsumsi perkapita pertahun, kita sampai dengan tahun 2016 itu sudah mencapai 1,4kg perkapita pertahun, jadi hampir seratus persen peningkatan. Tren kopi produksinya menurun sedang konsumsinya meningkat,”

Eris sendiri memiliki kekhawatiran tersendiri tentang arah produksi kopi yang lebih diarahkan ke varietas Arabica, padahal mayoritas masyarakat Indonesia 70 persen merupakan produsen Robusta.

“Kita memiliki sedikit kekhawatiran sebetulnya, kita sedang menggalakkan bagaimana Robustaisme, bukan Arabicaisme, karena Indonesia adalah produsen Robusta. Sebenarnya dari seratus persen, tujuh puluh persen adalah Robustaisme, karena kalau Arabica ini tumbuh didataran tinggi dan tergantung dengan alam dan iklim cuaca, kalau robusta didataran rendah. Jadi dikhawatirkan kalau kita mendorong semua ke arabica malah nanti produknya tidak ada,” tutup Eris.

Reporter: Zakarija
Editor: Dayat
Bagikan! Bagikan! Bagikan! Bagikan!

About Redaksi

0 comments:

Post a Comment