Meneladani Mohammad Natsir, Sang Negarawan Berjiwa Islam

Foto Mohammad Natsir
Oleh: Zakarija Hidayatullah S.Kom.I

Mohammad Natsir, seorang pejuang Islam di tanah air yang mendapatkan gelar pahlawan nasional pada tanggal 10 November 2008, bertepatan pula Indonesia tengah memperingati Hari Pahlawan Nasional, sebuah peringatan atas perjuangan arek-arek Suroboyo melawan dan mengusir para kompeni dengan diiringi pekikan dan gelegar takbir Bung Tomo.

Tak banyak anak muda saat ini yang mengenal sosok Mohammad Natsir sebagai tokoh nasional kelas dunia, apalagi kiprah perjuangannya dalam mosi Integral yang disepakati seluruh elemen bangsa sehingga melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tentu apa yang telah ia lakukan merupakan sebuah perjuangan yang nyata dalam mempertahankan Indonesia dari perpecahan-perpecahan yang diusung oleh para penjajah dan musuh-musuh bangsa.

Bernama lengkap sebagai Mohammad Natsir Datuk Sinaro Panjang, lahir di kampung Jambatan Baukia, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada tanggal 17 Juli 1908. Dia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya bernama Idris Sutan Saripado, seorang juru tulis kontrolir di masa pemerintahan Belanda. sedang Ibunda Natsir bernama Khadijah, yang dikenal sebagai sosok wanita taat dalam memegang nilai-nilai luhur ajaran agama Islam.

Pada tahun 1934, Natsir berksempatan untuk mempersunting sang belahan jiwa, yakni gadis jelita yang bernama Puti Nur Nahar, dimana pertemuan mereka berawal saat Natsir menjadi guru di Taman kanak Kanak sekaligus sebagai aktifis JIB (Jong Islamieten Bond). Dari pernikahannya ia dikaruniai 6 orang anak, yakni Siti Mukhlisah, Abu Hanifah, Asma Faridah, Hasna Faizah, Aisyatul Asriyah dan Ahmad Fauzi. (Mas'oed Abidin; 2012)

Mohamad Natsir sendiri merupakan sosok negarawan yang sederhana, tokoh yang menjabat sebagai perdana menteri pertama Indonesia ini tidak meninggalkan kekayaan kepada anak-anaknya. Bahkan menurut kesaksian sekretaris beliau yakni ust Syuhada Bahri, disaat Natsir mendapatkan tawaran hadiah dari Raja Faisal sang putra mahkota Kerajaan Saudi Arabia, ia mengatakan cukuplah hadiah itu untuk "anak-anak kami" (kader-kader ideologis, bukan anak kandung) di Indonesia. Sehingga sejak saat itulah keran bantuan dan beasiswa pendidikan di Saudi Arabia terbuka lebar untuk pelajar-pelajar dari tanah air.

George Mc Turnan Kahin menilai Natsir sebagai pemimpin yang sederhana dan rendah hati. Kahin meceritakan pertemuanya dengan Natsir pertama kali di Yogyakarta pada tahun 1948. kala itu, Natsir menjabat sebagai menteri penerangan di bawah Kabinet Hatta. Ia melihat Natsir tidak malu menjahit baju dinasnya yang robek, karena itulah satu-satunya baju dinas yang ia miliki. Beberapa minggu kemudian, kata Kahin, para pegawai Kementerian Penerangan mengumpulkan uang untuk membelikan baju agar "boss" mereka tampak seperti menteri sungguhan. (Yusril Ihza Mahendra; 2008)

Jiwa negarawan dan politisi handal melekat pada sosok Mohammad Natsir. Ia dikenal sebagai orang yang tetap berjalan pada etika politik dan konsisten dalam memegang prinsip. Sebagai pendiri sekaligus pimpinan parta Masjumi, jika terdapat seseorang yang mengatakan bahwa Masjumi kaku dalam berpolitik, dengan tenang Natsir menjawab, "Kami berpolitik dengan prinsip. Kalau kami tidak setuju, ya terus terang saja kita katakan dengan segala konsekuensinya."

Bagi Natsir, partai politik mempunyai fungsi pendidikan politik kepada umat agar mereka mengerti caranya mengatur negara. Itulah pak Natsir. Sosok dirinya memang harus dlihat secara lengkap. Pola hidup sederhana sebagai pejabat tinggi negara yang sungguh jauh berbeda dengan kondis gaya hidup pejabat saat ini.

Tokoh sekaligus pimpinan pusat Muhammadiyah yakni Prof. Dr. Hamka pun mempunyai kesan mendalam terhadap sosok Mohammad Natsir, Hamka pun bercerita, "Di kala Natsir menjabat sebagai perdana menteri (1950), sebuah mobil berhenti dihadapan gang yang menuju rumah saya kira-kira pukul 8 malam, di Gang To Hong II no. 141 Sawah Besar. Seorang turun memberi tahu dengan berbisik:

"Pak Natsir datang menjemput bapak".

"Perdana Menteri ... ?" tanya saya.

Kawan itu mengangguk. Dan sayapun segera berpakaian dan turun dari rumah lalu langsung menuju ke mobil yang sedang menunggu. Natsir ada di dalam mobil itu. Dia mempersilakan saya naik dan duduk disampingnya." Kenang Hamka. (Hamka; 1978)

Dalam perjuangannya, Mohammad Natsir sering berbeda pendapat, sering pula berdebat tetapi tidak bermusuhan dan saling dendam. Mungkin sosok seorang negarawan yang penuh dengan keteladanan seperti itulah dapat dijadikan renungan bagi kita semua.

Dalam sidang Konstituante di Bandung pada tanggal 13 November 1957, Hamka menuliskan sya'ir khusus ditujukan untuk Mohammad Natsir, karya sastra itu berjudul "Kepada Saudaraku M. Nasir". Berikut ini syairnya;

Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar

Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar api-nya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa

Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan Duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu

Kemana lagi, Natsir ke mana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridla Ilahi
Dan akupun masukkan
Dalam daftarmu...!

Mohammad Natsir wafat pada hari Sabtu tanggal 6 Februari 1993 pukul 12.10 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dalam usia 85 tahun. Natsir telah mengajarkan kepada generasi muda tentang nilai-nilai dan semangat perjuangan yang dilandaskan diatas panji Islam. Jejak kepahlawanan, kesederhanaan, dan keteladanannya amat sangat bernilai untuk ditelaah, dikaji, dan diteladani oleh kita bersama.
Bagikan! Bagikan! Bagikan! Bagikan!

About Redaksi

0 comments:

Post a Comment