Sejarah Warisan Kuliner Nusantara


Foto ilustrasi www.dasoecafe.com

Moslemzone - Kuliner, sebagaimana kita tahu merupakan kebutuhan pokok manusia. Dengan begitulah kuliner menjadi salah satu hal yang menjanjikan bagi perkembangan bisnis di sekitar kita, baik dalam skala besar, menengah ataupun usaha kecil-kecilan.

Luasnya geografis Nusantara yang memiliki banyak budaya, tak pelak menjadikan negeri tercinta ini kaya pula dengan keanekaragaman kulinernya. Sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa setiap daerah juga memiliki kuliner khas masing-masing. Bahkan, ada juga beberapa bahan pangan yang mungkin bakal bikin kamu penasaran sekaligus ingin mencicipinya. Yuk! intip berbagai varian kuliner Indonesia.

RAWON

Rawon, siapa yang tak kenal dengan kuliner yang satu ini. Rawon merupakan sejenis sup dengan kuah berwarna hitam, dipadu dengan daging sapi berlemak dan urat kenyal. Untuk melengkapinya, bisa ditambahkan tauge pendek, sambal terasi, bawang goreng dan kerupuk sebagai pelengkapnya.

Sejarah Rawon sendiri belum memiliki asal usul yang jelas. Banyak penjual yang tidak tahu bagaimana awal mula Rawon. Namun, beberapa orang berspekulasi bahwa makanan ini adalah makanan para raja dahulu.

PECEL

Bahan utama dari Sambel Pecel adalah kacang tanah sangrai dan cabai rawit yang dicampur dan ditumbuk dengan bahan lainnya seperti kencur, daun jeruk purut, bawang, asam jawa, gula merah dan garam. Pecel sering juga dihidangkan dengan tempe goreng, rempeyek kacang atau rempeyek udang. Jika dilihat sepintas, Pecel bak saudara kembar dengan Gado-gado. Namun yang membedakan adalah bahan-bahan dan bentuk penyajiannya. Untuk penyajian pecel, bisa menggunakan piring, bisa juga menggunakan daun yang dilipat (pincuk).

Ciri khas yang menonjol pada Sambal Pecel adalah rasa pedas dan manis. Konon katanya, asal muasal Sambal Pecel ini diracik dan dijual oleh seorang pedagang yang bernama Mbok Pecel, yang berasal dari Madiun.

GUDEG

Apa itu Gudeg? Gudeg merupakan makanan khas Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pembuatan Gudeg menggunakan nangka muda yang dimasak dengan santan. Warna coklat pada Gudeg dihasilkan dari daun jatuh yang dimasak bersama dengan nangka muda.

Beberapa orang, beranggapan bahwa nama Gudeg berasal dari kata It’s good, Dek! Konon katanya berawal dari seorang bule yang menikahi orang Jawa dan meminta untuk dibuatkan masakan nangka muda. Ketika si bule merasakan kelezatan masakan yang dibuat istrinya, dia mengatakan "It's good, Dek!”. Nah sejak saat itulah, orang-orang menyebut masakan nangka dengan nama Gudeg.

PEMPEK

Pempek Palembang, salah satu makanan tradisional dari Sumatra Selatan yang terbuat dari ikan dan tepung sagu ini sudah populer di Indonesia. Rasanya yang kenyal dan gurih dengan campuran saus asam yang pedas memang nikmat untuk disantap. Ikan untuk pembuatan Pempek ini bukan sembarang ikan. Namun ikan yang digunakan adalah ikan tawar, seperti Ikan Putak, Ikan Toman, dan Ikan Bujuk. Untuk menyantap Pempek, biasanya disediakan cuko yang terbuat dari gula, cuka hitam, bawang putih dan cabai rawit.

Menurut cerita rakyat, Pempek telah ada sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu sekitar abad ke-16, dibawah kekuasaan Sultan Mahmud Badarudin di Kerajaan Sriwijaya. Nama Pempek diyakini berasal dari sebutan “apek”, yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina.

COTO MAKASSAR

Coto Mangkasara’ atau lebih dikenal dengan sebutan Coto Makassar, merupakan salah satu kuliner tradisional nusantara tepatnya dari kota Makassar, sesuai dengan nama dari kuliner tersebut. Hidangan kuliner ini telah menjadi sajian lezat dan kaya akan manfaat bagi kesehatan. Sajian soto ini sebenarnya tak berbeda jauh dengan jenis soto lainnya. Namun memang, Coto Makassar memiliki kekhasan berupa bumbu rempah dan kacang untuk membuat kuah yang kental.

Coto Makassar sudah ada sejak masa Somba Opu yang merupakan pusat Kerajaan Gowa ketika mengalami kejayaan pada 1538. Saat itu, Coto Makassar menjadi hidangan di kerajaan Gowa. Pada masa itu, para pengawal kerajaan menjadikan masakan ini sebagai menu makan pagi sebelum menjalankan tugasnya. (Anggun Sukma Faradilla).
Bagikan! Bagikan! Bagikan! Bagikan!

About Redaksi

0 comments:

Post a Comment