Refleksi Sumpah Pemuda

Foto ilustrasi www.berdikarionline.com
Dunia globalisasi ini semua serba berubah. Dari yang dulu masyarakat serba asing dengan dunia sosial media, kini sosial media begitu mudah dijangkau oleh semua kalangan, baik dari kawula muda maupun orang dewasa, dari penduduk kota hingga penduduk desa. Perubahan ini seakan menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari dalam kehidupan mereka. Tak heran jika dunia sekarang ini sangat butuh dengan sebuah perubahan. Meski begitu banyak perubahan yang lebih condong ke arah yang negatif, Tapi perubahan positif memang benar-benar harus segera di laksanakan.

Pemuda seringkali disebut-sebut sebagai agen dari sebuah perubahan. Dengan semangat dan kreatifitas yang mereka miliki, mereka sangat berpotensi untuk membuat perubahan di dunia ini. Tak heran jika bapak proklamator Indonesia, Bung karno pernah mengatakan sebuah petuah tentang semangat kepemudaan tersebut. Katanya, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Dengan berpegang dengan sifat yang dimiliki pemuda, bung Karno sampai mengatakan hal yang demikian. Prosentase yang jauh antara semangat seorang pemuda dengan seribu orang tua itu.

Islam sendiri meletakkan pemuda di antara dua fase kelemahan manusia. Yakni, di antara masa kecil dan masa tua yang digambarkan di dalam Al-Qur’an sebagai orang yang telah beruban. Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman: 


“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Q.S. Ar-Rum: 54)

Allah menyebutkan masa muda sebagai masa yang di mana manusia mempunyai kekuatan di dalamnya. Artinya, jika seseorang berada dalam sebuah kekuatan maka dia berada berada pada kondisi yang disebut sebagai masa muda. Rasulullah SAW sendiri diangkat sebagai seorang Nabi ketika umunrnya berada di puncak kepemudaan, yakni 40 tahun. Sehingga dengan semangat pemuda yang masih membara, Rasulullah mulai mengemban sebuah kewajiban dakwah dengan segala tantangan yang ada di dalamnya.

Tidak hanya itu, kita tidak bisa melupakan fakta sejarah bahwa seorang panglima yang diangkat oleh Rasulullah SAW untuk memerangi pasukan Romawi sebelum baginda meninggal adalah seorang pemuda yang bernama Usamah bin Zaid. Meskipun mendapatkan beberapa tentangan dari para sahabat, namun Usamah membuktikan bahwa jiwa kepemudaannya serta tanggung jawab yang diberikan kepadanya, ia mampu pulang ke Madinah dengan membawa sebuah kemenangan. Kita tidak bisa berdusta lagi dengan apa yang kit abaca dari sejarah kepemimpinan Usamah. Panglima muda yang juga merupakan anak angkat baginda Rasulullah SAW. Kata Rasulullah kala itu:

“Wahai sekalian manusia, saya mendengar pembicaraan mengenai pengangkatan Usamah, demi Allah, seandainya kalian menyangsikan kepemimpinannya, berarti kalian menyangsikan juga kepemimpinan ayahnya, Zaid bin Haritsah. Demi Allah, Zaid sangat pantas memegang kepemimpinan, begitu juga dengan putranya, Usamah. Kalau ayahnya sangat saya kasihi, maka putranya pun demikian. Mereka adalah orang yang baik. Hendaklah kalian memandang baik mereka berdua. Mereka juga adalah sebaik-baik manusia di antara kalian.”

Tidak hanya itu, Muhammad Al-Fatih yang kita kenal sebagai kepiawainya dan keberhasilannya dalam menaklukkan Konstantinopel, pada saat itu juga masih berumur remaja. Bertahun-tahun para sahabat ingin membuktikan ramalan Rasulullah bahwa sebaik-baik penglima dan pasukan adalah penakluk Konstantinopel. Namun, bisyaroh (ramalan) itu dibuktikan oleh seorang pemuda yang bukan dari kalangan sahabat.

Pasca kemerdekaan Indonesia, juga dikatakan bahwa para pejuang yang turut andil memerdekakan nusantara adalah tidak lain adalah seorang pemuda. Dengan darah yang mendidih mereka berjuang atas nama perjuangan merebut kemerdekaan yang begitu mudah dijajah oleh kaum imperialis.

Hari ini kita tidak bisa menutup mata dunia, bahwa kaum muda sendiri begitu banyak dijajah meski tidak secara fisik. Ke mana semangat jihad yang diwariskan para tokoh sumpah pemuda dulu yang begitu keras dalam melawan penjajah. Tapi sekarang, secara sadar atau tidak sadar kita (kaum muda khususnya) seakan menutup telinga terhadap sejarah dan bukti nyatanya tentang kiprah pemuda sebagai tonggak sebuah perubahan, serta pemegang asset kemerdekaan yang lambat hari semakin dikikis nilai luhurnya. 


Semoga dengan semangat yang tersisa, kita masih peduli dan membuka mata dan telinga kita untuk meneruskan estafet perjuangan yang sejatinya sangat digantungkan oleh kaum muda tersebut. (Ali Muhtadin)
Bagikan! Bagikan! Bagikan! Bagikan!

About Redaksi

0 comments:

Post a Comment