Khidir Menjelma Takdir




Photo by www.pexels.com
Takdir ada jauh sebelum manusia pertama diciptakan. ia sudah dulu tertulis dengan rapinya. Benda yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena, lalu ia tuliskan apa yang sudah ditetapkan dan diputuskan oleh sang pembuat pena, yakni Allah Ta'ala. Lalu kemudian takdir itulah yang kini manusia lewati dengan dinamika yang ada. Dan tak ada satupun manusia di muka bumi yang dapat menghindari takdir Allah Ta'ala.

Begitu banyak manusia mengeluh ketika menghadapi takdir yang seringkali mereka anggap sebagai sesuatu musibah dan keterpurukan. Namun, manusia tidak pernah sadar bahwa apa yang Allah timpakan kepada mereka adalah sesuatu yang akan memberikan hikmah dalam kehidupannya. Karena terkadang takdir yang menimpa manusia sangat jauh di luar logika dan akal manusia. Maka dari itu terdapat sebuah kisah sejarah yang dapat kita kaitkan dengan sebuah takdir manusia.

Khidir, adalah manusia yang sangat luar biasa. Bahkan nabi Musa Alaihissalam diperintah oleh Allah untuk berguru kepadanya, karena sebelumnya Musa menganggap dirinyalah manusia paling berilmu. Setelah menempuh perjalanan panjang, berjumpalah Musa dengan sosok yang dianggap oleh sebagian ulama’ sebagai nabi, Khidir.

Ketika berjumpa dengan Khidir, Musa sudah mendapatkan peringatan dari Khidir bahwa Musa tidak akan sanggup bersabar jika ingin berguru dengannya. Namun tanpa keraguan Musa mengatakan bahwa dirinya adalah termasuk bagian orang yang bersabar. Sehingga diberikanlah Musa beberapa syarat yang harus dipenuhi jika ingin berguru dengan Khidir.

“Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu,” ucap Khidir pada Musa. Maka persayaratan tersebut disetujui oleh Musa a.s.

Hingga di sebuah perjalanan laut, dengan kapal yang hasil tumpangan nelayan setempat, terjadilah peristiwa yang membuat hati Musa ganjal. Saat di tengah perjalanan, Khidir dengan sengaja melubangi kapal nelayan tersebut. Sontak membuat logika Musa terusik, lalu ia bertanya dan protes kepada Khidir. Musa bertanya, “mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk meneggelamkan penumpangnya? Sungguh engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar,” sanggah Musa pada Khidir.

Satu logika manusia tidak akan setuju, ketika secara kasat mata perbuatan yang dilakukan oleh Khidir adalah perbuatan tercela. Namun, ada sesuatu yang nanti akan dijelaskan oleh Khidir mengapa ia melakukan hal tersebut. Khidir mengatakan, “bukankah sudah kukatakan bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?”, kata Khidir.

Singkat cerita Musa meminta maaf dan berjanji untuk tidak lagi melanggar syarat yang sudah disepakati bersama Khidir. Hingga terjadi kembali peristiwa yang kembali membuat Musa melanggar persyaratan tersebut. Ketika sampai di sebuah pulau, mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki, kemudian tanpa adanya sebab Khidir membunuh anak tersebut.

Lagi-lagi logika manusia akan menolak sebuah perbuatan yang dilakukan oleh Khidir, begitupun yang ada dipikiran Musa Alaihissalam. Sehingga membuat Khidir kembali mengatakan hal yang sama saat pertama kali Musa melanggar perjanjian. Namun, Musa kembali meminta maaf dan meminta kesempatan untuk terakhir kalinya, sampai Musa berjanji jika ia kembali melanggar ia bersedia untuk berpisah dengan Khidir.

Hingga tibalah masa Musa memang harus berpisah dengan Khidir, saat Musa kembali melanggar perjanjian awal yang telah disepakati. Saat khidir dan Musa diusir dari sebuah kampung, Khidir memperbaiki dinding yang hampir saja roboh ketika mereka melihat dan melewati rumah tersebut. Hingga tiba saatnya Khidir untuk menjelaskan semua yang telah ia lakukan, yang membuat Musa melanggar perjanjian tersebut.

Khidir berkata, “adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut, aku bermaksud merusaknya, Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu. Adapun anak muda kafor itu kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalu dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran, kemudian kami menghendaki sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan seorang anak yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih saying kepada ibunya. Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghrndaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuatbukan menurut kemampuanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya,” jelas Khidir kepada Musa.

"Begitulah manusia, terkadang tidak pernah sabar dalam menghadapi cobaan yang disangkanya begitu berat, padahal Allah tidak pernah membebani hamba-Nya masalah di luar batas kemampuan manusia sendiri."

Begitulah manusia, terkadang tidak pernah sabar dalam menghadapi cobaan yang disangkanya begitu berat, padahal Allah tidak pernah membebani hamba-Nya masalah di luar batas kemampuan manusia sendiri. Sabar menjadi hal yang begitu mudah untuk ditinggalkan, sedangkan dengan besabar tersebut manusia mampu memahami bahwa takdir yang diterima oleh manusia adalah baik semuanya. Karena manusia selalu menilai berdasarkan apa yang dirasakan, padahal penilaian Allah jauh lebih bernilai dari penilaian manusia itu sendiri. Kisah tersebut bisa dilihat dalam surat Al-Kahfi ayat 65-82. (AM)
Bagikan! Bagikan! Bagikan! Bagikan!

About Redaksi

0 comments:

Post a Comment